October 22, 2009

Pengalaman Bandung-Jakarta

20 Oktober lalu, aku berkesempatan menikmati perjalanan Bandung-Jakarta yang tak biasa. Yah, karena biasanya perjalanan antar kota aku hanya menjumpai kejenuhan melihat gambar-gambar berulang di kanan-kiri jendela kendaraan. Kali ini diatas gerbong kereta aku benar-benar tersentak setelah beberapa kali gerbong kereta melewati jurang dan tebing yang tinggi. Hmmm, memang Bandung dikelilingi oleh banyak bukit. Ngeri juga rasanya saat gerbong kereta melintasi rel yang berada tinggi di atas jurang. Apalagi pada rel tersebut tak ada dinding pembatas.

Sesekali aku melihat jalan-jalan beraspal di sisi yang lain. Wow, ternyata itu jalan tol yang melintasi Bandung-Jakarta. Baru tahu kalau ternyata jalan tol itu beberapa juga disangga oleh tiang-tiang beton yang tinggi.  Memang kalau dari mobil, tak terasa kalau sebenarnya jalan yang kita susuri itu hanyalah jalan setapak di atas tiang.

Bukit-bukit yang rimbun dengan pepohonan seakan melupakan kalau itu masih wilayah Bandung. Ya karena Bandung dengan nama besarnya seolah tak ada sisa tanah perawan, seakan semua telah tertutup beton-beton bangunan. Hmm, tanah Jawa masih banyak ruang kok untuk pembangunan. Tak perlu penuh di area kota-kota besar saja.

April 20, 2009

Politik, Pragmatis, Koalisi, dan (kita) Aktivis Muslim

Sekali-sekali kita berbicara tentang politik. Apalagi akhir-akhir ini suhunya memanas berkutat di peta perpresidenan. SBY sangat percaya diri untuk memenangkan kursi kepresidenan dan lagi-lagi lawannya sama dengan pemilu 5 tahun lalu, yaitu Ukhti Megawati. Beberapa pihak menghendaki adanya perubahan. Padahal perlu juga belajar dari pengalaman pemilihan rektor UGM terakhir. Ketika mahasiswa menghendaki adanya perubahan, apa lacur justru kondisi lebih tidak mengenakkan ketika rektor terpilih tidak lebih baik dalam memerintah kampus. Justru gerakan mahasiswa menjadi semakin tidak mendapat ruang. Masalah menjadi bertambah, tidak terbatas masalah mahalnya biaya pendidikan tapi juga sampai ke akses dalam beraktivitas. Itukah perubahan yang dikehendaki ?

Pragmatis, kata-kata yang sedikit berkonotasi negatif. Lawannya idealis. Megawati menjanjikan kebijakan yang pro rakyat, meski belum konkrit. Itupun tetap dalam konteks pragmatis, demi mencari popularitas. Yah belajar dari ketidaksesuaian perkataan dan perbuatan. Prabowo menawarkan style kerakyatan. Ekonomi kerakyatan menyingkirkan neoliberal. Benarkah ? Mungkinkah ? di tengah gempuran bertubi-tubi neoliberal … Cina saja harus memodifikasi sosialismenya. Seorang ikhwan FEB menganalisis itu tidak mungkin. Wah, monggo kalau mau berkomentar. Yang sering dibenturkan adalah pragmatis versus idealis. Namun jika yang pragmatis itu lebih konkret memberi manfaat ?

Koalisi, bersama mengerjakan kebaikan. Mungkin itu definisi pasnya. “Taawanu alal birri wat taqwa”. Seperti bertaawunnya kompi ikhwan dan akhwat dalam menggarap dakwah kampus. Seperti bertaawunnya berbagai angkatan dalam mengajak masyarakat kampus. Seperti bertaawunnya murobi dan mutarobi dalam meperluas jaringan dakwah. Hampir nihil ada niatan selain berkontribusi maksimal untuk agama dan umat. Itukah yang terjadi di jagat politik nasional ? Bukan justru jadi momen berbagi kuasa. Momen memanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Entah ALLAH menakdirkan koalisi model apa. Semoga yang terbaik yang terjadi .. terbaik untuk rakyat/umat.

Toh, kasak-kusuk di panggung politik hanya dapat diikuti dan dipahami oleh sebagian orang. Kebanyakan hanya sempat berpikir untuk perutnya sendiri. Bahkan seorang aktivis pun bukan jaminan. Namun tetap perlu diingat bahwa rakyat yang punya kuasa (secara konsep demokrasi, no offense). Kalau dari sudut pandang kita, nilai-nilai ALLAH lah yang berkuasa. Kitalah hendaknya sebagai pejuang nilai-nilai Ilahi itu.

Semoga gak mumeti ..Hanya urun rembug.

April 17, 2009

SD 099 punyaku

Aku cuma mo cerita tentang sekolah dasarku. Namanya SDN 099 Balikpapan Utara. Aku lulus dari sana tahun 1998. Entah sekarang namanya masih sama atau tidak. Dua tahun yang lalu ketika aku ke Balikpapan, aku masih melihat SD itu ada. Aku tuliskan kisahnya agar barangkali ada yang memerlukan informasinya. Mungkin saja kelak SD ini menorehkan namanya di jagat nasional atau internasional. Karena ada siswanya yang berhasil mengharumkan namanya. Semoga itu aku … Arief Rakhman Prasetyo!

SD ini terletak di Kel. Gunung Sari, Kec. Balikpapan Utara, Kodya Balikpapan. Semoga belum berubah alamatnya. Ketika itu, tempatnya agak masuk ke dalam, jauh dari jalan raya besar. Tapi sekarang jalan di depan SDku sudah menjadi jalur ramai lalu lintas.

Guru-guru yang mengajarku antara lain Ibu Pur (nama lengkapnya lupa, wali kelasku kelas 3), Ibu Merilim Naibaho (ini guru favoritku, wali kelasku kelas 4), Bapak Saripin Saragih (the killer teacher, semoga sekarang lebih ramah dg muridnya, wali kelasku kelas 5 dan 6), Bapak Jumangat (guru agama, sudah almarhum), Ibu Kartini (Kepala sekolah yang jarang berinteraksi dengan siswanya, sibuk kayaknya), Bapak Agus (Guru Olahraga). Thanks for all .. Semoga aku bisa membanggakan kalian kelak, para pahlawan tanpa tanda jasa.

SD 099 berjajaran dengan SD 038. Jaraknya tidak sampai 50 meter. Meskipun demikian, antar SD tersebut jarang berinteraksi. Aku aja gak ada yang kenal anak-anak sana. Untungnya juga jarang tawuran. Secara prestasi, yah sama … SDku ini kalau di tingkat Balikpapan tidak terdengar namanya. Misalkan aku bilang aku dari SD 099 pasti gak ada yang tau dimana letaknya. Yang menarik angka 099 itu …

Sejelek-jeleknya SD itu, dia berhasil menanamkan kepribadian pada diriku. Sehingga aku menjadi seperti saat ini. Sehabis SD, aku pindah ke Jawa dan tetap dapat bersaing dengan teman-teman di Jawa. Sampai akhirnya aku bisa lulus dari Jurusan Teknik Elektro UGM.

Yah itulah SDku, aku mo crita banyak tapi takut banyak salah. Karena tentunya SD 099 sekarang sudah jauh berbeda dari SD 099 10 tahun yang lalu ketika aku lulus darinya. Meski demikian, aku gak akan melupakan SD 099. Semoga ke depan aku bisa banyak membantu sebagai balas budi terhadap SD itu. Amiin