Proposal Kecil, Kontribusi untuk Umat

Selalu saja. Tiap kali kunaiki KRL Ekonomi, pasti ada banyak pelajaran hidup yang bisa kuambil. Terkadang bahkan menjadi penghibur lara, pemicu syukur, dan pelicin zikir.

Tak terkecuali siang tadi. Enam Maret Dua Ribu Sebelas. Diantara baur riuh suara mesin kereta, pedagang, dan penumpang. Seorang laki-laki berpeci agak kumal putih, membagikan selebaran fotokopian. Sampai ke baris kursiku, selebaran itu kuamati. Sudah agak kusam memang, di dalamnya tertulis sebuah proposal mini (mungkin lebih tepat disebut surat). “Pengajuan dana pembangunan pondok pesantren”. Jadi ceritanya ada sebuah pesantren di pelosok Tangerang, selama ini pesantren itu masih menumpang di bangunan warga. Mereka ingin mandiri dengan mempunyai bangunan sendiri. Subhanallah niat yang mulia. Tapi hebatnya penggalangan dana dilakukan secara eceran di KRL Ekonomi !!! Bukan bermaksud menyepelekan, disini kulihat sebuah ikhtiar yang maksimal dari panitia penyelenggara. Sampai peluang sekecil apapun itu dicoba.

Sempat ada pertanyaan menggelayut di benakku. Benarkah ini ? Tidakkah ini hanya akal-akalan mencari duit untuk kepentingan pribadi si penggalang dana mengatasnamakan pesantren fiktif ? Kuamati isi proposal mini itu, kuperiksa nama penandatangan di surat itu, kulihat stempel asli yang terbubuh, kuamati penampilan panitia penggalang dana (pengedar proposal). Tampilan proposalnya lumayan profesional, penandatangannya banyak sampai melibatkan pihak kepolisian dan pejabat daerah, stempel asli biru berwarna, panitia meski tidak mewah tapi cukup rapi, berjanggut sedikit serta terpancar cahaya keikhlasan dan ketulusan di wajahnya. Akhirnya bismillah insya Allah ini beneran.

Sehabis seluruh isi gerbong terbagikan proposal mini, penggalang dana (yang cuma 1 orang sendiri) mengambil posisi di tengah gerbong. Kebetulan posisi dudukku juga di tengah gerbong, jadi sangat jelas kulihat apa yang dilakukannya. Dengan suara yang hanya terdengar samar-samar, karena harus melawan baur riuh suara sekeliling, beliau memberikan pembukaan dan permohonan singkat akan maksud beliau apa. Yah, bagiku ini juga ikhtiar ke sekian kalinya meski jelas tak mungkin seisi gerbong mendengarkan dan memperhatikan. Setidaknya sudah gugur salah satu kewajiban ikhtiarnya.

Setelah itu beliau kembali ke ujung gerbong dan memunguti satu per satu proposal yang tadi sudah dibagikan. Hingga sampai ke posisiku, kujulurkan proposalnya. Pikirku nantinya hanya dia ambil dan cuek meninggalkanku. Tapi tidak, dia raba sebentar, lalu dia buka proposal yang ditekuk sampai berbentuk kantong. Dia ambil uangku yang sudah kumasukkan. Lalu dia catat jumlah uangku di tabel proposal, di depan mataku. Aku baru ingat, memang di selebaran proposal itu ada list tabel nama dan jumlah untuk donatur. Dan itu ternyata bermanfaat, bukan hanya penghias. Strategi yang bagus untuk ditiru. Kubayangkan, panitia itu bisa jadi relawan. Yang tanpa pamrih menggalang dana. Karena itu hari ahad. Bisa saja memang beliau sengaja meluangkan hari libur kerjanya untuk melakukan kerja amal yang lain. Subhanallah …

Ayyuhal ikhwah, barisan kita besar, barisan kita kuat. Lalu kenapa kita tidak lebih baik dari seorang penggalang dana tadi ? Rela luangkan waktu libur kerjanya untuk berpeluh keringat hingga masuk ke kantong-kantong masyarakat kelas menengah ke bawah …

Ya Allah kokohkanlah kerja-kerja kami.

Salam takzim,
Arief R. Prasetyo

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.