Gajimu berapa ?
Agak jengah juga saat dengar gurauan dan celotehan beberapa kawan. Tentang suatu tema. Ada yang saling berbagi kabar tentang teman-temannya mereka yang bekerja di tempat lain dengan gaji sangat besar. Ada yang punya idealisme istri harus kerja supaya kas keluarga cepat melimpah. Ada yang bekerja siang malam dengan dalih belajar menimba banyak ilmu, yang ujung-ujungnya juga agar laku dihargai tinggi sebagai pekerja. Ada yang menggerutui penghasilannya, yang tidak selaras kenaikannya dengan naiknya beban hidup. Ada yang diam-diam rajin menabung untuk membeli barang mewah idamannya.
Well, realita di dunia perkantoran tak jauh dari itu. Sedang di kalangan menengah ke bawah tak jauh panggang dari api. Training-training kewirausahaan dan motivasi menjamur. Usaha MLM ramai mencari anggota. Iming-imingnya apalagi kalau bukan hidup mewah, bergelimang harta dalam waktu singkat.
Imbasnya lahirlah nasehat semu, kebaikan semu, semangat semu. Kenapa semu ? Karena semua hanya topeng, yang terpaksa sembunyikan maksud hati yang masih berkiblat ke materi. Seorang khatib menasehati jamaah untuk hidup sederhana, zuhud, tapi habis ceramah obrolan sang khatib balik lagi ke hobi gonta-ganti mobil mewah Seorang pejabat menasehati masyarakat untuk tidak korupsi tapi dianya sendiri tetap sibuk mencari-cari celah penghasilan tambahan. Seorang teman menawarkan obat suatu penyakit, katanya sekedar ikhtiar, tapi belakangnya selalu mengejar-ngejar untuk jadi anggota MLM. Seorang suami banting tulang kerja siang malam, setelah sukses akhirnya cari istri baru.
Ya, saat manusia sudah disibukkan/tergoda dengan hawa nafsu (materi) maka selamanya dia akan dikendalikan oleh hawa nafsu tersebut. Sampai ujung dunia sekalipun Hingga ujung waktu hidupnya. Namun sebaliknya jika manusia menyibukkan diri dengan perkara akhirat, maka dunia akan mengejar-ngejar dirinya.
Apa yang salah ? Persepsi, ambisi, dan mimpi. Jika ketiganya tak jauh dari hawa nafsu maka akibatnya kering hati. Rasa sesal dan iri menghegemoni syukur. Mata gelap melihat kehidupan. Berjalan seolah tanpa arah.
Oleh karena itu, coba geserlah teladanmu itu. Bukan lagi artis-artis yang selalu hadir di layar kaca. Bukan lagi pejabat-pejabat di kantor pusat. Bukan lagi orang kaya-orang kaya di kompleks perumahan mewah.
Mungkinkah teladanmu berganti menjadi Rasulullah dan para sahabat. Mereka memilih hidup sederhana, membagikan apa yang mereka punya untuk orang lain. Mereka berlomba-lomba untuk akhirat. Tak ada saling mengasihani dalam hal materi. Adanya saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.
Ya Allah, ijinkan aku berjumpa dengan kekasih-kekasihmu itu.
Salam takzim,
Arief R. Prasetyo
No trackbacks yet.